Assalamu'alaikum wr wb
Salam sejahtera untuk kita semua.
Detik-Detik Kesunyian | CIPTA CERPEN
Karya: Dian Nita Sari
Pandanganku pada langit kelam. Cahaya rembulan meredup seakan
mulai ditelan kegundaan. Aku terbaring sambil melangkah untuk mimpi
yang tak bisa kubangkitkan. Mungkin awan hitam di atas sana sedang
tersenyum melawan badai yang menerjang. Namun sayang, hidupku tak
serupa senyumnya. Dunia yang fana, tetapi bagiku semua ini maya.
Keabadian tawa tak sepenuhnya kudapatkan, bahkan mungkin setitik
pun tak pernah. Kesedihan adalah keseharianku. Kesepian yang melanda
selalu membuatku bergelimang larut akan tangisan. Terkadang aku
selalu bertanya dalam benakku. Mengapa Tuhan membiarkan aku untuk
berada dalam keheningan ini.
Aku hidup didalam keluarga kecil yang terdiri dari ayah, ibu, dan seorang adik kecilku. Mereka adalah Jantung dalam hidupku selama ini, kami melewati hari-hari kami dengan sangat berwarna, hingga suatu ketika kudapati berbagai permasalahan-permasalahan menyelimuti keluargaku dengan berlapis-lapis. Aku merasa diriku bukanlah hal yang menjadi salah satu warna lagi dari mereka, warna-warni bahagia itu pelan-pelan mulai habis terkikis dalam alunan tangis.
Permasalahan berawal saat ayahku diam-diam memilih jalan pintas dari ibuku, lama berlangsung hingga ibuku pun akhirnya mengetahui semua itu. Tanpa pikir panjang mereka saling membela diri sendiri hingga mereka bertengkar hebat, namun pada saat itu aku tak tahu apa maksud dari semua ini, tapi aku mampu rasa kesedihan tetap ada mengikutiku kemana aku pergi, hal itu membuat prestasi belajar dan pergaulanku semakin menurun.
1tahun hal itu berlangsung disetiap harinya, namun permasalahan itu semakin bertambah, sampai terpikir dalam benakku, kuingin akhiri semuanya. Tapi seseorang yang pada waktu itu selalu memberiku motivasi telah berhasil membuatku mengubur pikiran itu, ia bernama Alwi.
Dengan modal motivasi itu aku mampu menyesuaikan segalanya.
Dan pada suatu ketika Alwi ingin bicara kepadaku, tapi entah mengapa perasaan ku menjadi tidak enak. Ia mengatakan padaku bahwa ia akan pergi menjauh dari,ku. Aku tak tahu apa maksudnya mengapa ia tiba-tiba berbicara seperti dengan apa yang sebelumnya aku pikirkan dengan batin yang tak enak tadi. Dan pada saat itu seketika diriku hancur karena satu-satunya orang yang mendukungku pada waktu itu telah memilih untuk pergi dariku.
Dengan itu aku berusaha hidup tanpa sanggahan tiang, aku memulai diriku dengan menghiraukan semua fakta ini. Dan orangtua ku pun sampai detik ini masih sama dengan apa yang tidak kuharapkan, dan aku berpikir mungkin Alwi sudah bahagia dengan yang lain. Tapi ternyata tidak, aku mendapatkan kabar bahwa ia meninggalkanku saat itu juga karena ia sedang bersanding dengan maut, kata salah seorang sahabatnya memberitahukan kepadaku bahwa ia pergi dariku karena ia tak mau melihatku semakin sedih dengan keadaannya yang mengidap penyakit Kanker Darah stadium akhir itu. Aku pun tercengang bercampur rasa kesedihan. Ia tak pernah menceritakan ku tentang hal ini sehingga akhirnya ia pun pergi meninggalkan dunia ini.
Kini hidupku semakin kosong tanpanya, aku merasakan sepi yang luarbiasa. Dan aku pun memutuskan untuk pergi dengan sakit yang kubawa ini dan berpesan pada mereka yang kusayangi untuk selalu bisa tersenyum tanpa aku.
Rabu, 04 Februari 2015
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



0 komentar:
Posting Komentar